TELAAH JURNAL AGAMA - jurnal satu

JURNAL 1
MENINGKATKAN TATA CARA BERWUDHU’
PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN
Oleh : Yulianis

Absrtact
Against the background of this research by the findings in the field there are three students Tunagrahita mild and one teacher in the classroom SLB Perwari DV in Padang. In the learning procedure for wudoo ', teachers still tend to use the conventional approach that is still a teacher center teacher means more dominant as the transfer of knowledge in children, so children get bored easily accept an explanation from the teacher. Based on the researchers tried to use the method of study tours to improve procedures for wudoo 'is done by utilizing the water faucet mosque, it is intended that the child can clearly see the procedure for doing wudoo' well on the water faucet mosque. This study uses action research methods class (Classroom Action Research) conducted in collaboration with colleagues. Data were collected through observation techniques, tests and interviews, then analyzed qualitatively and quantitatively.

Kata Kunci : tata cara berwudhu’; anak tunagrahita Ringan.

PENDAHULUAN
Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha sadar untuk menciptakan manusia seutuhnya, dalam arti manusia yang dapat membangun dirinya sendiri dan secara bersamasama membangun bangsa dan Negara. Hal ini tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 bahwa “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Untuk itu penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak dapat secara aktif mengembangkan  potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan agama khususnya agama Islam merupakan suatu mata pelajaran pokok yang harus diajarkan di setiap jenjang pendidikan, termasuk pada Sekolah Luar Biasa.
Pendidikan agama Islam bertujuan untuk menanamkan akidah agar menjadi manusia yang bersyukur sebagai makhluk Tuhan, manusia yang rajin, giat, ulet dan disiplin dalam berusaha untuk kesejahteraan hidupnya di dunia dan diakhirat.
Pada pembelajaran pendidikan agama Islam dalam (Depdiknas, 2006) salah satu materinya adalah ibadah. Materi ibadah yang ditujukan untuk anak dalam tingkat pendidikan dasar ini antara lain adalah sholat. Sholat merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk melaksanakan (mendirikannya). Sebelum mengerjakan ibadah sholat, wajib dilakukan wudhu’, dalam berwudhu’ ada beberapa ketentuan dan kegiatan yang harus dilakukan yang merupakan satu kesatuan.
Begitu pentingnya kemampuan berwudhu’, sebagai syarat sah sholat bagi semua orang yang akan melakukan sholat termasuk anak tungrahita ringan. Bagi anak tunagrahita melakukan kegiatan yang berturut-turut merupakan hal yang sulit dilakukan karena terbatasnya kemampuannya.
Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan di SLB Perwari Padang pada bulan januari sampai bulan mei 2012. Ditemukan tiga orang siswa (IF, BN dan AD) mengalami kesulitan pada materi wudhu. Dari hasil asesmen yang dilakukan kepada tiga orang anak yang berinisal mulai dari (IF) masih belum benar cara berwudhu sesuai tatanan berwudhu’/urutan: sering lupa berkumur-kumur, mencuci tangan, telinga dan kaki hanya satu kali saja. Dan saat mencuci muka anak langsung saja mengambil air dan menyiramkannya ke muka kemudian anak mengusap kepala dengan sedikit air saja dan kemudian langsung menyiram kaki dengan air tanpa digosok dengan tangan. Sedangkan BN dan AD juga hampir sama dengan IF. BN dalam berwudhu’ sering terbalik-balik urutannya (terkadang membasuh muka di dahulukannya dan terkadang berkumur-kumur yang didahulukan).  AD juga sering ada yang tertinggal.
Pelajaran berwudhu sudah dajarkan selama satu semester dan guru selalu berupaya agar kemampuan berwudhu’ anak meningkat. Usaha yang dilakukan guru diantaranya dengan  menggunakan metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan penugasan. Namun materi berwudhu’ belum maksimal dimiliki anak. Hal ini salah satunya disebabkan karena keterbatasan dari guru yang mengajar Agama Islam yakni: guru tersebut adalah tunanetra, jadi dalam pembelajaran berwudhu’ belum maksimal diberikan kepada anak. Oleh sebab itu, maka dalam pembelajaran berwudhu’ ini dilaksanakan oleh guru kelas (awas) yang tidak belatar belakang jururusan agama, meskipin demikian untuk mengisi kekosongan maka yang mengajarkan agama islam adalah guru kelas sendiri termasuk cara menagajarkan cara berwudhu’ agar dapat dipraktekkan kepada anak secara langsung. Di samping itu, selama ini pendekatan yang digunakan guru masih menggunakan pendekatan konvensional yakni dalam proses pembelajaran masih bersifat teacher center artinya guru lebih dominan sebagai pentransfer ilmu dari pada anak.
Selain itu, pembelajaran lebih dititikberatkan pada penguasaan konsep yaitu mengajarkan apa itu berwudhu, pengertian berwudhu, syarat-syarat berwudhu dan yang membatalkan wudhu’, yang bersifat abstrak yaitu menjelaskan tata cara berwudhu’ dengan bercerita terlebih dahulu tanpa memperlihatkan gambar dan fakta artinya lebih bersifat hafalan dimana guru bertanya kegiatan wudhu dari awal sampai akhir sehingga kurang mengembangkan keterampilan dalam melakukan wudhu’ tersebut. Sehingga dalam belajar anak mudah bosan dalam menerima penjelasan dari guru. Penilaian yang dilakukan guru lebih berorientasi pada tes formal dan lebih dominan pengukuran pada aspek kognitif, sehingga anak belajar mengingat cara dan urutan-urutan wudhu’, kurang aplikasi. Bila dilihat identifikasi awal keadaan fisik anak: kemampuan motoriknya masih berfungsi baik, artinya anak mempunyai modal untuk memiliki kemampuan berwudhu dan melaksanakan sholat. Kemampuan sosialisasinya juga baik, tidak minder dan mau bergaul dengan teman sebayanya.
Dari fenomena di atas, maka peneliti menganggap bahwa sebagai guru masalah ini perlu diatasi. Untuk itu perlu dicarikan solusinya. Salah satu solusinya yaitu perlu dikembangkan pembelajaran bermakna yang melibatkan anak secara langsung, agar anak benar-benar mempunyai konsep terhadap materi yang diajarkan. Untuk itu dalam pembelajaran berwudhu dilakukan dengan memanfaatkan air mengalir. Hal ini bertujuan, agar anak dapat secara jelas melihat tata cara berwudhu yang baik pada air yang mengalir.
Pada saat belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Hal itu bukan sekedar rekreasi tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu, dikatakan teknik karya wisata, yang merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pegadaian. Banyak istilah yang dipergunakan pada metode karya wisata ini, seperti widya wisata, study tour, dan sebagainya. Karya wisata ada yang dalam waktu singkat, dan ada pula yang dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang.
Menurut Syaiful (2006:105) metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan. Sedangkan menurut Roestiyah (2001:85) adalah:
Metode karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu dikatakan teknik karya wisata, ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.
Pelaksanaan metode karya wisata dalam pembelajaran mempunyai langkah-langkah. Menurut Roestiyah (2001:86) bahwa agar penggunaan teknik karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Persiapan.
Dalam hal ini guru menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas, mempertimbangkan pemilihan teknik, menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya, penyusunan rencana yang masak, membagi tugas-tugas, mempersiapkan sarana, pembagian siswa dalam kelompok, serta mengirim utusan.
b. Pelaksanaan karya wisata
Dalam hal ini pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya, memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama, mengawasi petugaspetugas pada setiap seksi, demikian pula tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggungjawabnya, serta memberi petunjuk bila perlu.
c. Akhir karya wisata
Pada waktu itu siswa mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil karya wisata, menyusun laporan memuat kesimpulan yang diperoleh, menindaklanjuti hasil kegiatan karya wisata seperti membuat grafik, gambar, model-model, diagram, serta alat-alat lain dan sebagainya.

METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Ebbutt dan Hopkins dalam Rochiati Wiriatmaja (2007:12) mengemukakan bahwa penelitian tindakan adalah kajian sistimatik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.
Suharsimi Arikunto  (2006:72) berpendapat ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penelitian tindakan kelas yaitu;
1.      Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang mengikutsertakan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan.
2.      Kegiatan refleksi di lakukan berdasarkan timbangan rasional yang mantap dan falid guna melakukan perbaikan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
3.      Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pelajaran yang dilakukan secara praktis.

HASIL PENELITIAN
Pada pelaksanaan tindakan dilakukan, peneliti terlebih dahulu bersama kolaborator mengadakan tes anak terhadap kemampuan berwudhu’. Tes ini digunakan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki anak dalam berwudhu’. Hasil dari pemberian tes awal ini, ternyata anak masih belum benar cara berwudhu’nya sesuai tatanan berwudhu’/urutan misalnya: sering lupa berkumur-kumur, mencuci tangan, telinga dan kaki hanya satu kali saja. Dan saat mencuci muka anak langsung saja mengambil air dan menyiramkannya ke muka kemudian anak mengusap kepala dengan sedikit air saja dan kemudian langsung menyiram kaki dengan air tanpa digosok dengan tangan dan lain sebagainya. Artinya, kemampuan anak dalam berwudhu’ masih rendah dan masih perlu pembelajaran dan bimbingan lebih lanjut. Kegiatan dilakukan bertahap sesuai dengan arah yang diinstruksikan.
Kegiatan siklus I dilakukan selama sembilan kali pengamatan, dan setiap pertemuan dilakukan penilaian. Hasil siklus I kemampuan anak tunagrahita ringan (IF, BN dan AD) pada pertemuan I kemampuan IF dalam melakukan tata cara berwudhu’ adalah (58%), pertemuan II kemampuan IF adalah (62%), pertemuan III adalah (64%), pertemuan IV adalah (66%), pertemuan V kemampuan IF adalah (68%), pertemuan VI adalah (70%) dan pada pertemuan VII adalah (72%). Sedangkan pertemuan VIII sampai IX masing-masing adalah (80%). Kategori persentase kemampuan tertinggi adalah adalah 100% dari 25 langkah tata cara berwudhu’.
Pada pertemuan I kemampuan BN dalam melakukan tata cara berwudhu’ adalah (48%), pertemuan II kemampuan BN adalah (50%), pertemuan III adalah (52%), pertemuan IV adalah (54%), pertemuan V kemampuan BN adalah (56%), pertemuan VI adalah (58%) dan pada pertemuan VII adalah (60%). Pertemuan VIII adalah (68%) dan akhir pertemuan adalah (70%). Kategori persentase kemampuan tertinggi adalah adalah 100% dari 25 langkah tata cara berwudhu’.
Kemampuan AD dalam melakukan tata cara berwudhu’ siklus I dapat dijelaskan bahwa: pada pertemuan I kemampuan AD dalam melakukan tata cara berwudhu’ adalah (46%), pertemuan II kemampuan AD adalah (48%), pertemuan III dan IV masing-masing adalah (50%), pertemuan pertemuan V kemampuan AD adalah (52%), pertemuan VI adalah (54%) dan pada pertemuan VII adalah (56%). Pertemuan VIII adalah (60%) dan akhir pertemuan adalah (62%). Kategori persentase kemampuan tertinggi adalah adalah 100% dari 25 langkah tata cara berwudhu’.
Hasil tes dari kemampuan anak dalam berwudhu’ pada siklus II dapat digambarkan sebagai berikut: kemampuan IF dalam berwudhu’ selama siklus II bahwa: pada pertemuan I dan II kemampuan IF dalam melakukan tata cara berwudhu’ adalah (82%), pertemuan III kemampuan IF adalah (86%), pertemuan IV dan V adalah tetap (96%). Kategori persentase kemampuan tertinggi adalah adalah 100% dari 25 langkah tata cara berwudhu’.
Kemampuan BN dalam berwudhu’ selama siklus II bahwa: pada pertemuan I dan II kemampuan BN dalam melakukan tata cara berwudhu’ adalah (72%), pertemuan III kemampuan BN adalah (78%), pertemuan IV aadalah (88%) dan pada pertemuan V adalah tetap (92%). Kategori persentase kemampuan tertinggi adalah adalah 100% dari 25 langkah tata cara berwudhu’. kemampuan AD dalam berwudhu’ selama siklus II bahwa: pada pertemuan I kemampuannya adalah (64%), pertemuan II kemampuan (68%), pertemuan III kemampuan AD dalam melakukan tata cara berwudhu’ adalah (70%), pertemuan IV kemampuan dan V adalah (88%). Kategori persentase kemampuan tertinggi adalah adalah 100% dari 25 langkah tata cara berwudhu’.

PEMBAHASAN
Pada pelaksanaan pembelajaran berwudhu’ dengan memanfaatkan air mengalir peneliti seorang guru melaksanakan proses pembelajaran semaksimal mungkin sesuai langkah-langkah yang telah direncanakan. Namun peneliti merasa bahwa kemampuan anak dalam berwudhu’ belumlah sempurna, masih dapat kekurangannya dan membutuhkan waktu yang panjang.
Anak tunagrahita sedang masih bisa didik untuk hal-hal yang sederhana dan berguna bagi kehidupannya sehari-hari. Termasuk adalah dalam berwudhu’. Wudhu’ adalah bersuci (membersihkan diri) sebelum melaksanakan sholat. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Rahmat (2004:23) bahwa “wudhu’ berarti baik atau bersih”. Sholat wajib dilakukan oleh orang Islam dalam sehari adalah lima kali. Oleh sebab itu, wudhu’ sangat penting dikuasai anak agar amal ibadah sholat anak sempurna. Karena kesempurnaan sholat diawali dari kesempurnaan dari berwudhu’nya.
Pada penelitian ini, disesuaikan dengan kemampuan anak tunagrahita, sehingga langkah tersebut dimodifikasi lebih rinci dan detail sehingga diperoleh langkah pada penelitian ini sebagai berikut:
Berdoa
a)      Menengadahkan tangan ke atas dan diangkat setinggi dada
b)      Membaca basmalah (berniat)
Mencuci kedua belah tangan sampai pergelangan tangan dengan bersih
c)      Menggosok-gosokkan telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri
d)      Mencucui diisela-sela kedua jari
Berkumur-kumur 3x
e)      Memasukkan air ke mulut dengan tangan kanan
f)       Menggerak-gerakkan air dalam mulut
g)      Membuang kembali air dalam mulut
Mencuci hidung 3x
h)      Arahkan air ke hidung dengan tangan kanan
i)        Keluarkan air (segera) sambil memencet hidng dengan tangan kiri
Membasuk muka 3x
j)        Tampung air kran dengan kedua tangan
k)      Siram muka dari kening-pinggir telinga-dagu
Membasu tangan 3x
l)        Membasuh tangan kanan dengan mengarahkan air dari siku sampai ujung jari
m)    Membasuh tangan kiri dengan mengarahkan air dari siku sampai ujung jari
Mengusap kepala 3x
n)      Tampung sedikit air kran dengan tangan kanan
o)      Usapkan air dari kening sampai belakang kepala Mencuci telinga
p)      Masukkan jari telunjuk kanan yang telah dibasahi air di telinga bagian dalam
q)      Gosokkan ibu jari di bagian belakang telinga (bawah sampai ke atas telinga) kanan
r)       Masukkan jari telunjuk kiri yang telah dibasahi air di telinga bagian dalam
s)       Gosokkan ibu jari di bagian belakang telinga (bawah sampai ke atas telinga) kiri
Membasuh kaki 3x
t)        Gosok kaki kanan dan sela-sela jari dengan tangan kanan sampai mata kaki.
u)      Gosok kaki kiri dan sela-sela jari dengan tangan kiri sampai mata kaki
Berdoa
v)      Menghadap kiblat
w)    Menengadahkan tangan ke atas
x)      Angkat sampai dada
y)      Membaca doa
Proses pembelajarannya dilakukan dengan peraga dan bertahap. Pembelajarannya dengan penjelasan dan peraga. Hal ini seperti yang dikemukakan Pasaribu dan Simanjuntak  (1986:128): “Demonstrasi adalah suatu cara mengajar/teknik mengajar dengan mengkombinasikan lisan dengan suatu perbuatan serta dipergunakan suatu alat, sehingga akan lebih menambah penjelasan lisan, lebih menarik perhatian anak dan sebagainya”. Dengan penjelasan dan peraga diharapkan anak akan lebih paham dan mampu melakukan proses pembelajaran berwudhu’ dengan maksimal sesuai kemampuannya.

KESIMPULAN
Penggunaan kran air Masjid dapat digunakan untuk membantu mempermudah anak dalam pelaksanaan berwudhu’. Karena dengan menggunakan kran, anak tidak menimba air yang sangat menyulitkan dalam pelaksanaan wudhu’ bagi anak tunagrahita. Dengan menggunakan kran air, maka dapat memudahkan anak lebih mudah melakukan langkah berwudhu’.
Pelaksanaan penelitian ini didahului dengan adanya masalah terhadap hasil belajar berwudhu’, lalu membuat perencanaan pembelajaran, melakukan tindakan (dua siklus) yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir dengan memanfaatkan kran air Masjid, kemudian observasi, analisis dan refleksi sesuai dengan langkah-langkah dalam penelitian tindakan kelas. Di samping itu agar anak tetap termotivasi guru memberikan reinforcement dalam bentuk verbal, gerakan fisik, mimik wajah dan senyuman. Kegiatan ini dilakukan agar anak terus bersemangat dalam belajar dan agar anak tidak mudah bosan dan putus asa bila tidak paham, sehingga pembelajaran berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

SARAN
Berdasarkan hasi penelitian di atas maka dapat disarankan sebagai berikut:
a.       Bagi guru
Guru hendaknya lebih memperhatikan karakteristik anak dan membantu kesulitan dari anak
khususnya dalam meningkatkan kemampuan berwudhu’ agar lebih mudah dan praktis.
b.      Bagi calon peneliti
Bagi calon peneliti berikutnya untuk meningkatkan kemampuan berwudhu’ atau keterampilan lain
dengan memanfaatkan sarana dan prasana yang dapat mempermudah pelaksanaan dan
penguasaan keterampilan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Bahar Azwar. (2011). Manfaat Gerakan Shalat dan Fungsi Wudhuk. Online: http:// islamislam-
iman-blogspot.com/2011/10manfaat-gerakan-shalat-dan-fungsi-wudhu.html.
Diakses: 12 Januari 2012
Budiman Mustofa. Dkk. (2012). Panduan Gerakan dan Bacaan Shalat. Jakart: Shaih
Ziyag Visi Media.
Labib. (2005). Tuntunan Shalat Lengkap. Jakarta: Sandro Jaya.
Mohd. Amin (1995). Orthopedagogik Anak Tunagrahita.Jakarta:Depdikbud
Mulyono Abdurrahman dan Sudjadi . (1994). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.
Jakarta: Depdikbud.
Rochiati Wiriaatmadja (2006). Metode Penelitian Tndakan Kelas. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Suhardjono. 2004. Metode Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Suharsimi Arikunto (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta


TELAAH JURNAL
Alasan Pemilihan Judul
            Jurnal berjudul “Meningkatkan Tata Cara Berwudhu’ Pada Anak Tunagrahita Ringan” saya ambil sebagai bahan telaah karena keingin tahuan saya tehadap pengetahuan agama yang di miliki oleh penderita tuna grahita. Diketahui bahwa adanya keterbelakangan mental dari penderita tuna grahita menjadi salah satu penyebab susah nya mengjarkan sesuatu hal kepada meraka, termasuk mengarjarkan pengetahun agama atau ibadah, yang dimaksudkan disini ialah mengajarkan mereka tata cara berwudhu’.
Inti Sari Jurnal
Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha sadar untuk menciptakan manusia seutuhnya, dalam arti manusia yang dapat membangun dirinya sendiri dan secara bersamasama membangun bangsa dan Negara. Pendidikan agama khususnya agama Islam merupakan suatu mata pelajaran pokok yang harus diajarkan di setiap jenjang pendidikan, termasuk pada Sekolah Luar Biasa. Pendidikan agama Islam bertujuan untuk menanamkan akidah agar menjadi manusia yang bersyukur sebagai makhluk Tuhan, manusia yang rajin, giat, ulet dan disiplin dalam berusaha untuk kesejahteraan hidupnya di dunia dan diakhirat.
Di dalam jurnal berjudul “Meningkatkan Tata Cara Berwudhu’ Pada Anak Tunagrahita Ringan” ini dijelaskan bahwa anak tunagrahita sedang masih bisa didik untuk hal-hal yang sederhana dan berguna bagi kehidupannya sehari-hari. Termasuk didalamnya adalah dalam berwudhu’. Wudhu’ adalah bersuci (membersihkan diri) sebelum melaksanakan sholat. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Rahmat (2004:23) bahwa “wudhu’ berarti baik atau bersih”. Sholat wajib dilakukan oleh orang Islam dalam sehari adalah lima kali. Oleh sebab itu, wudhu’ sangat penting dikuasai anak agar amal ibadah sholat anak sempurna. Karena kesempurnaan sholat diawali dari kesempurnaan dari berwudhu’nya. Proses pembelajarannya dilakukan dengan peraga dan bertahap. Pembelajarannya dengan penjelasan dan peraga.
“Demonstrasi adalah suatu cara mengajar/teknik mengajar dengan mengkombinasikan lisan dengan suatu perbuatan serta dipergunakan suatu alat, sehingga akan lebih menambah penjelasan lisan, lebih menarik perhatian anak dan sebagainya”. Dengan penjelasan dan peraga diharapkan anak akan lebih paham dan mampu melakukan proses pembelajaran berwudhu’ dengan maksimal sesuai kemampuannya.
Penggunaan kran air Masjid dapat digunakan untuk membantu mempermudah anak dalam pelaksanaan berwudhu’. Karena dengan menggunakan kran, anak tidak menimba air yang sangat menyulitkan dalam pelaksanaan wudhu’ bagi anak tunagrahita. Dengan menggunakan kran air, maka dapat memudahkan anak lebih mudah melakukan langkah berwudhu’.

Manfaat untuk Orang Banyak
            Jurnal berjudul “Meningkatkan Tata Cara Berwudhu’ Pada Anak Tunagrahita Ringan” memberikan banyak manfaat. Dari jurnal tersebut diperoleh pengetahuan betapa mirisnya seorang tuna grahita ringan, untuk melakukan hal sepele seperti berwudhu’ saja mereka membutuhkan usaha yang besar. Sebagai manusia normal setelah membaca jurnal ini menjadi sadar akan nikmat yang diberikan Allah, sehingga kita seharusnya senantiasa bersyukur dan mempergunkan kemampuan yang  di berikan oleh Allah semaksiml mungkin untuk berbuat kebajikan. Menjadi lebih semangat dalam mencari ilmu mengingat betepa banyak kenikmatan yang dibeikan oleh Allah, dan itu tidak boleh di sia-siakan.

Simpulan Dan Saran
            Dapat disimpulkan dari jurnal berjudul “Meningkatkan Tata Cara Berwudhu’ Pada Anak Tunagrahita Ringan” masalah ini solusinya yaitu perlu dikembangkan pembelajaran bermakna yang melibatkan anak secara langsung, agar anak benar-benar mempunyai konsep terhadap materi yang diajarkan. Untuk itu dalam pembelajaran berwudhu dilakukan dengan memanfaatkan air mengalir. Hal ini bertujuan, agar anak dapat secara jelas melihat tata cara berwudhu yang baik pada air yang mengalir.
Pada saat belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Hal itu bukan sekedar rekreasi tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu, dikatakan teknik karya wisata, yang merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pegadaian. Banyak istilah yang dipergunakan pada metode karya wisata ini, seperti widya wisata, study tour, dan sebagainya. Karya wisata ada yang dalam waktu singkat, dan ada pula yang dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

GRAFIK KERNEL

TELAAH JURNAL AGAMA - jurnal dua

TELAAH JURNAL AGAMA - jurnal tiga